Posts

Pada Tuan

Pada Tuan Nona menaruh hati
Diam-diam tanpa Tuan mengerti Siapakah Tuan, Nona yang kau cari? Tentu bukan Nona yang selama ini mencintai
Tuan, sekiranya Nona mulai berprasangka Nona dambaan yang Tuan selalu puja Tuan tak berhati membiarkan lara Nona kesepian ingin Tuan peka
Nona dulu gembira Tuan belikan dua pasang sepatu serupa ‘tuk dipakai bersama Tapi nampaknya kini Tuan lupa Ketukan musik cerita klasik telah rusak berantakan karena suatu masa
Tuan, Nona rela bila Nona tak bertuan Tapi Nona tak rela jika Tuan menjadi milik Nona yang berlain Tuhan Biarlah cinta Nona sebatas asa dan tak pernah jua tersampaikan Asal, setidaknya Tuan tahu Nona pernah memberi rasa tanpa mengemis perasaan




|Widya Arum
enam belas Maret silam
(tulisan pada masa itu) 

Titik dalam Paragraf

Prolog

Diam

Bila rindu makin kelabu
entah aku harus bagaimana
walau menit telah beribu

Pada senja dan ratu purnama
kuingin lontarkan suara hati
agar sosok nama di sana mengerti

Bahwa seharusnya aku tak usah kecewa
karena di sana
ada Sang Agung yang selalu menjaga

Dan segala menjadi tenang
meski batin ini telanjur diam


|Widya Arum


Selain Aku

Untuk seseorang,
yang rindunya tak pernah kubalas
Secerca kata kau tulis Dalam sebuah pesan singkat Tanpa identitas Tak secuilpun kuketahui
Lantas kubiarkan Hingga lelah sendiri Tapi, tak kuduga Kau lagi ada
Semangatmu lebih berbobot Dibandingkan kasih lamamu Yang senantiasa Tak peduli
Maafkan diri ini yang tak pernah bisa berkata "iya" Perjuangkanlah lebih dari ini Sampai kau temukan yang sesungguhnya Kan kusampaikan pula pada Tuhan Agar kau temukan jawaban.. Selain aku... {}


|Widya Arum 


Pergi

Dukaku tak kunjung berhenti
ketika kutahu kau lepas rangkul itu janji yang telah terucap kandas. Dan aku terluka sepenuhnya
Kau pergi
tuk selamanya
menemui Tuhan di alam yang berbeda Tak kembali Tak pernah kembali
Takdir kita dipertemukan untuk berpisah tiada yang dapat mengubah Bibir tak mungkin mencela Ini jalan kita
Kurelakan dengan sejuta asa yang takkan tercipta


|Widya Arum

Bukan Kita

Aku dan kamu
layaknya insan yang tak pernah mengenal
Aku dan kamu
seperti bunga setangkai yang telah layu
mati rasa sudah
   Daun-daun tak berhenti bertanya
   "Ada apa dengan dua manusia ini?"
   Wajah yang tak mau mengalah
   Bibir yang membisu
   Tatap mata yang tak mau bicara
   Aku dan kamu
   seperti sepasang musuh yang memadu kasih.



|Widya Arum
berteduh dan diam.

Demikian pun Aku

Adakah kau tahu?
tentang kenangan yang telah kau tinggalkan Empat tahun lamanya rasa rindu tak terbalaskan sangat berat kurasakan terobati saat kutahu Kau kembali. Kau ciptakan suasana baru menaruh hati pada yang mau menerima: aku Tuhan menganugerahkan padamu, mungkin dan semoga untukku. Tak siap, kuberlari sekuat hati Lemah kurasa Gejolak hati yang belum pernah ada Terlalu deras menembus rasa Aku tak bisa Aku tak bisa mencabut panah ini Antara aku dan kau rasa ini tak kunjung hilang. Dan kau pergi lagi             meninggalkan rasa yang tak mungkin kuakui Saat kusadar kau tak menetap di sini. Dan masih tak kumengerti apakah rasa ini pun demikian Jika aku diciptakan dari rusukmu Semoga rasa ini Akan tetap setia menetap dan berdiam diri
di hati menantimu sampai kau kembali lagi.


|Widya Arum Angan cerpen Karena Hujan Dan Ulang Tahun:buah pikir yang dulu.