Jumat, 05 Juni 2015

Diam

Bila rindu makin kelabu
Entah aku harus apa
Walau menit telah beribu

Pada senja dan ratu purnama
Kuingin lontarkan suara hati
Agar sosok nama di sana mengerti

Bahwa seharusnya aku tak usah kecewa
Karena di sana
Ada Sang Agung yang selalu menjaga

Dan segala menjadi tenang
Meski batin ini telanjur diam

9:40 p.m | Juni 15
Widya Arum


Rabu, 03 Juni 2015

Selain Aku

Untuk seseorang,
yang rindunya tak pernah kubalas

Secerca kata kau tulis
Dalam sebuah pesan singkat
Tanpa identitas
Tak secuilpun kuketahui

Lantas kubiarkan
Hingga lelah sendiri
Tapi, tak kuduga
Kau lagi ada

Semangatmu lebih berbobot
Dibandingkan kasih lamamu
Yang senantiasa
Tak peduli

Maafkan diri ini yang tak pernah bisa berkata "iya"
Perjuangkanlah lebih dari ini
Sampai kau temukan yang sesungguhnya
Kan kusampaikan pula pada Tuhan
Agar kau temukan jawaban..
Selain aku... {}

11:27 p.m
Widya Arum 



Sabtu, 16 Agustus 2014

Kau Pergi dan Tak Kembali



Dukaku tak kunjung berhenti
Ketika kutahu
Kau lepas rangkul itu
Janji yang telah terucap
Kandas…
Dan aku terluka sepenuhnya

Kau pergi tuk selamanya
Menemui Tuhan
Di alam yang berbeda
Tak kembali
Tak pernah kembali

Takdir kita
Dipertemukan untuk berpisah
Tiada yang dapat mengubah
Bibir tak mungkin mencela
Ini jalan kita…

Kurelakan…
Dengan sejuta asa
Yang takkan tercipta

Tuhan…
Bukakan pintu surge untuknya…

Sabtu, 09 Agustus 2014

Bukan Kita

Aku dan kamu
Layaknya insan yang tak pernah mengenal
Aku dan kamu
Seperti bunga setangkai yang telah layu
Mati rasa sudah
   Daun-daun tak berhenti bertanya
   "Ada apa dengan dua manusia ini?"
   Wajah yang tak mau mengalah
   Bibir yang membisu
   Tatap mata yang tak mau bicara
   Aku dan kamu
   Seperti sepasang musuh yang memadu kasih

10/08/2014
Widya Arum. Berteduh dan diam...

Rasa Ini, Aku Pun Demikian



Adakah kau tahu?
Tentang kenangan
Yang telah kau tinggalkan
Empat tahun lamanya
Rasa rindu tak terbalaskan
Sangat berat kurasakan
Terobati saat kutahu…
Kau kembali…
            Kau ciptakan suasana baru
Menaruh hati padaku
Tuhan menganugerahkan rasa itu…
Padamu,
Untukku…
Tak siap
Kuberlari sekuat hati
Lemah kurasa…
Gejolak hati
Yang belum pernah ada
Terlalu deras menembus batin
Aku tak bisa…
Aku tak bisa mengangkat panah ini
            Antara aku dank au
Rasa ini tak kunjung hilang
Dan kau pergi lagi
Meninggalkan rasa yang tak mungkin kuakui
Saat kusadar
Kau tak menetap disini
Namun ku tak mengerti
Apakah rasa ini pun demikian
Jika aku diciptakan dari rusukmu
Semoga rasa ini
Akan tetap setia dalam hati…
Menantimu sampai kau kembali lagi…


08/08/2014
Dari cerpen “Karena Hujan Dan Ulang Tahun”; Widya Arum

Rabu, 18 Juni 2014

Apalagi...



APALAGI

Bagaimana ku harus katakan
Katakan semua tentang cinta
Aku tak bisa
Harus apalagi, aku?
                Bayanganmu sudah menghilang
                Upayaku untuk lupakan
                Sudah kulakukan
                Harus apalagi, aku?
Mereka selalu ucapkan
Kumenangis karena cinta
Telinga pun demikian
Membisikkan berbagai kata
Yang sesungguhnya
Tak ingin kudengar lagi
Kuingin hentikan
Namun tak bisa
Harus apalagi, aku?
                Harusnya kau tahu
                Ku tak lagi cinta
                Dan ku sudah bisa
                Lupakan cerita
                Satu hal yang ingin kusampaikan padamu
                Aku membencimu
Kini waktunya tukku berhenti
Bertanya “apalagi”
Karena ku tahu jawabnya
Tinggalkan dan jangan kembali
 Widya Arum
19062014
Terinspirasi oleh suatu masa yang telah lalu



               

Jumat, 14 Maret 2014

Hangatnya Rindu (tidak untuk dicopas tanpa ijin)

Hangatnya Rindu



Wanita itu membuatku sadar
Bahwa waktu seutuhnya milik Tuhan
Bukan kita yang mengendalikan
Waktu terus berjalan
Hingga tiba kita di ujung jalan
Tak peduli apa yang kita kerjakan
Waktu bisa saja tiba-tiba berhenti
Karena Tuhan
Dan ketika itu kita dipisahkan
                Nenek, aku merindukanmu
                Nenek, maafkan aku
                Waktu itu tak bisa mengantarmu
                Saat itu aku sedang tidak dekat
                Mengapa aku tak mendapati firasat darimu, Nek
                Tidakkah kau bermaksud pamit padaku?
                Meskipun aku telah percaya
                Malaikat Izrafil datang tanpa mengetuk pintu
Aku teringat orangtuaku menceritakan padaku
Tentang kau
Dan masa kecilku
Yang katanya dulu menimangku penuh manja
Kau mencintaiku, Nek?
Aku pun sebaliknya
Bahkan sangat
                Entah apa yang harus aku lakukan
                Saat kurindu dan ingin bertemu
                Hanya lantunan doa sebagai hadiah untukmu
                Dan kenangan yang masih terekam dalam ingatanku
Aku menyesal
Semasa kau di dunia
Aku tak banyak bercerita
Tapi aku bahagia
Berkat senyumanmu yang tak pernah sirna
Meskipun aku tak pernah melihat rambut hitammu
Tapi aku bersyukur
Karena sempat kulihat cantik dirimu
Sayang aku tak sempat bertemu saat kau di ujung jalan
                Padahal aku ingin merasakan lebih lama bersamamu
                Di dunia yang sama
                Tetapi Tuhan berkehendak lain
                Kau tutup usia
Nek, semoga kau tenang di sana
Kau tetap menjadi inspirasi
Aku, cucumu, selalu merindu
Kenangan itu masih jelas dipikiranku
Dan kau akan selalu hidup
Meski dalam dunia yang berbeda

-Widya Arum-
Tegal, 14 Maret 2014
Ditengah kesunyian malam
                                                                                                                          Penuh rasa rindu yang mendalam

Seorang cucu kepada neneknya